Rabu, 09 Maret 2011

3 Trik Untuk Bisa Menyisihkan Penghasilan

Pada kenyataannya, saya sering menemukan ada banyak orang yang─walaupun penghasilannya besar─sering kali kesulitan untuk menyisihkan uang dari penghasilannya. Bukan satu dua kali saya bertemu dengan orang yang punya gaji hingga sepuluh juta, bahkan dua puluh juta, tapi teteeeeup saja susah buat mereka untuk bisa menyisihkan penghasilan agar bisa diinvestasikan dan diputar menjadi lebih besar lagi. Oleh karena itu, saya punya 3 trik yang mungkin bisa Anda pakai untuk bisa menyisihkan penghasilan sebelum penghasilan itu habis Anda pakai. 
1. Menabunglah dimuka, jangan dibelakang. Coba lihat, apakah selama ini Anda selalu menabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda? Bila ya, pantas saja Anda jarang bisa menabung. Kenapa? Oleh karena, uang Anda selalu habis tak berbekas. Maklum, uang memang lebih enak dipakai daripada ditabung. Ya, kan? Jadi, daripada ditabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda, kenapa tidak mencoba untuk menabung di muka segera setelah Anda mendapatkan penghasilan? Katakan saja Anda dapat penghasilan tiap tanggal 26 setiap bulan. Cobalah menabung setiap tanggal 26, 27, atau 28 sebelum Anda memakai penghasilan itu. “Loh, nanti penghasilan saya habis dong?” begitu mungkin kata Anda. Ya biar saja, toh Anda sudah sisihkan dulu sebelum penghasilan itu dipakai, kan? “Lho, nanti uang untuk biaya hidup saya dan keluarga berkurang dong?” Hallah, kalaupun penghasilan Anda naik, toh penghasilan itu akan habis juga, kan? Jadi, sebelum habis, kenapa Anda tidak selamatkan dulu sebagian, daripada nabungnya di belakang terus habis? Ya nggak? 
2. Minta tolong kantor yang memotongnya untuk Anda. Pada beberapa kasus, Anda mungkin bisa minta tolong kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda dan melakukan proses menabungnya buat Anda. Saya kasih contoh, kalau Anda punya investasi di reksadana, pembelian reksadana tersebut harus dilakukan dengan mentransfer uang ke rekening bank kustodian mereka. Nantinya uang itu oleh mereka dibelikan unit reksadana. Disini, Anda bisa meminta kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda di muka dan melakukan proses transfer itu sehingga Anda tidak perlu lagi repot-repot melakukan proses menabung. Toh, Anda tetap menabung di muka, kan? Pertanyaannya sekarang, memang bisa kantor melakukannya? Bisa dong. Cuma, Anda harus ngomong dulu ke mereka. Wong kalau anda punya utang ke kantor saja cara pengembalian yang mereka minta adalah dengan sistem potong gaji, kan? Kalau mereka bisa memotong gaji Anda untuk menutupi utang yang mereka berikan buat Anda, apalagi kalau Anda cuma minta kantor melakukan proses menabung buat Anda? All you have to do is just ask …. 
3. Pakai celengan. Eit, jangan kaget, yang namanya celengan itu tidak selalu buat anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa. Bedanya adalah apa yang Anda celeng. Kalau anak kecil nyeleng koin, entah seratus, lima ratus, atau seribu, Anda bisa nyeleng─katakan─lembaran dua puluh ribu rupiah. Lho, bagaimana caranya? Gampang: setiap kali Anda mendapatkan lembaran uang dua puluh ribu rupiah, tetapkan tekad: JANGAN PERNAH MENGGUNAKAN UANG ITU UNTUK BELANJA. Langsung saja masukkan ke celengan. Jadi, setiap kali bertemu lembaran uang dua puluh ribu, langsung dicelengin. Setiap kali bertemu lembaran dua puluh ribu, celeng lagi. Begitu seterusnya. Anda akan kaget begitu tahu berapa jumlah yang bisa Anda kumpulkan di akhir bulan. Misalnya, Anda belanja barang senilai Rp.15.000,- dengan menggunakan lembaran uang Rp.50.000,-. Berarti, Anda akan punya kembalian sebesar Rp.35.000,-, yang terdiri atas selembar dua puluh ribu dan tiga lembar lima ribu. Nah, celengin deh uang dua puluh ribu Anda. Anda toh sudah menetapkan tekad sebelumnya untuk tidak memakai lembaran dua puluh ribu itu, kan?
Work smart and hard !!!

Selasa, 01 Maret 2011

Lima Yang HARUS Anda Perhatikan

Banyak orang bilang “Kalau mau kaya, jangan lama-lama jadi karyawan. Keluar dan bukalah usaha sendiri.” Pertanyaannya: betulkah bekerja sebagai karyawan tidak bisa membuat Anda jadi kaya? Jawabannya: ternyata tidak betul…! Dalam postingan kali ini, ada 5 kiat agar seorang karyawan bisa jadi kaya:
1. Beli & Miliki Sebanyak Mungkin Harta Produktif,
2. Atur Pengeluaran Anda,
3. Hati-hati dengan Utang,
4. Sisihkan untuk Masa Depan,
5. Miliki Proteksi.
Dipenuhi dengan sejumlah contoh serta langkah praktis untuk setiap kiatnya, artikel berikut ini pantas menjadi pegangan bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan. Tapi mohon maaf, sayangnya bersambung. Sampai jumpa.

Minggu, 13 Februari 2011

Sudah Benarkah Pandangan Anda Dalam Membuka Usaha ? (Bagian 2)

Sudah Benarkah Pandangan Anda Dalam Membuka Usaha ? Kedua, tentang pandangan bahwa ‘jangan jadi karyawan/kuli kalau ingin menjadi kaya. Kalau ingin menjadi kaya jadilah juragan’. Statemen ini bisa benar dan bisa salah. Benar karena memang kalau kita jadi juragan, kerja kita tidak terlalu keras. Paling kerja keras kita berada di awal ketika membangun bisnis. Itu saja bagi orang yang tidak memiliki warisan orang tua yang kaya. Bagi yang mendapat warisan, tanpa perlu usaha sekecil pun langsung diangkat menjadi juragan. Kerja sang juragan paling hanya menghitung uang dan menggaji karyawan (padahal sebenarnya ada yang lebih dari sekedar demikian, yaitu memutar otak bagaimana agar usaha yang dijalani dapat berjalan eksis di pasaran. Dan ini dimiliki oleh siapa saja yang memiliki keterampilan memimpin dengan sifat-sifat pemimpin bijak berikut strategi yang jitu. Dan hal yang demikian itu tidak dapat diperoleh kecuali dari pengetahuan yang dia cari atau kecerdasan yang memang cenderung kepada dunia kepemimpinan). Tanpa bekerja pun, juragan tetap dapat penghasilan. Entah itu sakit, meninggalkan pekerjaan karena suatu keperluan, atau sebab yang lain. Lain dengan karyawan. Mau tidak mau dia harus mengerahkan tenaganya untuk mendapatkan penghidupan. Bila tidak berangkat bekerja ya tidak akan mendapatkan apa-apa. Sampai-sampai ada statemen : ‘lebih baik kecil tapi menjadi juragan daripada besar tapi jadi kuli’. Kalimat ini sama sekali tidak salah. Karena memang tiada artinya bila ada karyawan bergaji besar, namun bila dia menghadapi penghalang yang membuatnya absen bekerja, ya tidak akan mendapat gaji. Jika demikian, bagaimana cara meluruskan pemahaman keliru di atas ? Yang benar adalah mengambil jalan tengah. Berpikir seimbang dalam menganalisa keduanya. Maknanya kita jangan sampai berpikir cupet. Dalam suatu badan atau organisasi, pasti ada yang namanya ketua dan anggotanya. Tidak bisa jika kita menghendaki menjadi ketua atau anggota semua. Sekilas ketua memang menduduki kedudukan yang luar biasa. Tetapi keberadaannya tidak berarti ketika tidak ada anggota yang dipimpinnya. Begitu juga sebaliknya. Maka dalam suatu organisasi harus ada yang namanya ketua dan anggota, yang saling bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah diutarakan bersama. Dengan berpikir demikian, tidak akan ada seseorang yang ‘ngambek’ ingin menjadi juragan dalam usaha yang dia rintis atau milik orang lain. Jika memang dia adalah orang yang tepat, maka suatu saat nanti dia akan menjadi juragan dengan sendirinya. Dan jika tidak demikian, biarlah menikmati apa yang ada di hadapan. Tidak perlu memberontak. Karena perusahaan tanpa kehadirannya bisa jadi akan mati. Atau mungkin dia tidak mampu mengatur usaha jika diangkat menjadi juragan. Bisa jadi pula dia adalah karyawan di perusahaan ini, namun dia adalah juragan di perusahaan itu. Yang penting seseorang tidak akan frustasi jika memang dia belum atau tidak ditakdirkan menjadi juragan. Karena masing-masing adalah baik adanya jika menjalankan dengan baik dan ikhlas apa yang dibebankan. Demikian, semoga bermanfaat.

Minggu, 30 Januari 2011

Sudah Benarkah Pandangan Anda Dalam Membuka Usaha ? (Bagian 1)

 Satu kenyataan yang harus dimengerti oleh semuanya saja. Kita manusia memiliki satu sifat yang saya pikir tidak ada manusia yang tidak memilikinya. Ya benar, sifat itu adalah mencari kebahagian dan mengindari kesengsaraan. Semua manusia pasti mendambakan kebahagiaan dan benci akan kesengsaraan dalam hidupnya. Maka dari itu, manusia rela memeras peluh demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan mereka menyadari betul akan hal itu. Jika mereka menginginkan demikian, mereka harus rela bersusah payah terlebih dulu. Entah apapun itu cara yang mereka tempuh. Menjadi juragan tertentu, atau karyawannya. Guru, dokter, insinyur, pedagang, pembantu rumah tangga, atau yang lain. Sangat beragam. Atau dari segi apakah cara yang ditempuh adalah halal atau yang haram. Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Hanyasanya saya menilai ada satu persoalan yang saya lihat perlu dikoreksi. Hal ini saya tujukan bagi mereka yang melihat ‘usaha’ sebagai satu-satunya jalan meraih kesuksesan. Itu saja harus menjadi sebagai ‘bos’-nya, karena percuma saja menjadi karyawan. Menjadi karyawan tidak akan pernah menjadi kaya. Tentu saja ini adalah pandangan yang keliru. Kekeliruan ini dapat kita simpulkan dengan penjelasan berikut ini : Pertama, kita dicipta sebagai makhluk sosial. Tidak dapat hidup tanpa bantuan yang lain. Artinya, masing-masing dari kita sudah tentu memiliki spesifikasi yang berbeda-beda. Dalam kata lain, mereka menempuh profesi yang memang sesuai dengan keterampilan mereka. Dan ini sudah merupakan hukum alam. Sehingga tidak akan pernah ada semua manusia beprofesi dengan satu jenis profesi. Misal jadi pebisnis semua. Jelas hal ini tidak akan pernah terjadi. Kesimpulan secara tidak langsung dari status kita sebagai manusia sosial adalah keterampilan dari masing-masing kita adalah berbeda, sehingga profesi yang ditempuh pun akan berbeda pula. Dan perbedaan tersebut akan memunculkan keberagaman status dan profesi yang masing-masing memiliki peran dalam dunia kerja yang digeluti. Kenyataan di atas adalah logis adanya. Kedamaian dan ketenangan dalam hidup dapat kita rasakan ketika melihat keberagaman keterampilan yang memang sudah didesain khusus oleh penciptanya. Dengan rasa ingin membantu (semoga demikian) sekaligus mendapat penghidupan dari profesi yang memang sudah spesialis di bidangnya, manusia dapat saling melengkapi. Karena tidak mungkin satu manusia menguasai semua lini kehidupan. Jadi masing-masing ada yang ‘expert’ di bidangnya. Tidak bisa seorang manusia memegang semua profesi; dokter, guru, pilot, sopir, pedagang, dan lain sebagainya. Jika manusia sudah menyadari akan hal ini, maka dia akan merasa tenang bila dia menempuh usaha selama bertahun-tahun sebagai profesinya, dan ternyata ditakdirkan gagal, dia tidak akan putus asa. Bisa jadi profesi lain sesuai dengan skill atau potensi yang dianugrahkan kepadanya. Hal inilah yang kiranya perlu diperhatikan. Pemahaman bahwa profesi yang paling berpotensi paling cepat mendapatkan kecukupan adalah hanyalah bisnis adalah pemahaman yang dapat mematahkan semangat hidup bagi seseorang yang sudah over dalam menghayati pemahaman di atas. Ketika dia bertekad penuh ingin menjadi pebisnis sejati, namun jalan yang terbentang di hadapannya hanyalah kegagalan. Sehingga ketika takdir memang tidak sejalan dengan keinginan dia sebagai pebisnis, mungkin profesi yang lain yang memang sesuai dengan potensi yang dianugrahkan kepadanya, hatinya akan berontak dengan kenyataan hidup yang dia hadapi. Ketika dia menempuh hidup dengan profesi selain bisnis, dia melakukannya dengan setengah hati lantaran keyakinannya bahwa profesi selain bisnis tidak akan membawanya cepat kaya. Dari kesetengah-hatian yang bermula dari profesi yang tidak sesuai dengan keinginannya, lama-kelamaan karena terbiasa seperti itu, akhirnya semua aktifitas terkena imbas kesetengah-hatiannya. Hal ini jelas sangat merugikan. Entah merugikan dirinya sendiri maupun yang lain. Yang jelas kalau yang dirugikan dirinya sendiri tidak masalah. Hanya bagaimana jika yang dirugikan orang lain ? Yang penting anda bukanlah termasuk orang yang ingin dirugikan oleh yang lain. Namun ada satu persoalan lagi yang harus saya sampaikan, bahwa kegagalan kita dalam berbisnis jangan langsung kita vonis bahwa kita memang tidak cocok berprofesi sebagai pebisnis. Bila kita memang yakin bahwa kita bisa dalam menjalankan usaha, tidak ada salahnya kita menekuninya. Kegagalan yang kita alami bisa terjadi mungkin karena memang belum saatnya, atau karena strategi yang mungkin perlu dievaluasi, atau mungkin kita kurang berusaha dengan sungguh-sungguh dengan cara cerdas. Dan masih banyak lain yang mungkin menyebabkan kesuksesan kita tertunda. Teruslah semangati diri kita untuk terus berusaha dan berkarya !

Kamis, 13 Januari 2011

Sebuah Harapan Penulis ...

‘Yaa..., apa boleh buat, nasib memang sudah seperti ini’. Ungkapan pendek ini seringkali terucap di bibir dan terngiang-ngiang di telinga kita. Bahkan sering pula kita wariskan pada orang lain, ketika sebuah ‘ilustrasi hidup’ mengalami kegalauan yang membawa pada sebuah ‘keputusasaan’. Manusia memang dilengkapi unsur ‘keluh kesah’ dalam dirinya. Ketika dia menerima ‘kesuksesan’ dari sekian ribu kegagalan yang dialaminya, maka kegagalan itu akan sirna dengan seketika, bak pasir yang disirami hujan di atas batu. Tapi ketika ‘kegagalan’ menghampirinya, maka seketika itu pula, bibirnya akan berucap ‘memang suratan takdir bagiku’. Ingat ! tak satupun makhluk menginginkan ‘ketidaksuksesan’ dalam hidupnya, sehingga mereka selalu mempertahankannya dengan berbagai taktik dan strategi jitu. Hanya saja, cara dan sistem yang mereka bangun seringkali jauh dari ‘diri’-nya, sehingga kesuksesan tidak tergapai. Dan sebaliknya kegagalanlah yang diraupnya. Mungkin anda bertanya seberapa pentingkah keberadaan blog ini dalam koleksi literatur anda ? Dengan membaca blog ini, insya Allah kita akan menemukan banyak ide segar dan kreatif yang dituangkan para penulisnya yang saya ruju dari buku ‘Menguasai Pasar dan Mengeruk Untung’ terbitan Renaisan tahun 2005. Terkesan edisi lalu memang, namun perlu anda ketahui, tidak semua strategi kontemporer selalu menjamin keberhasilan lebih. Saat-saat tertentu, strategi lama dapat menghantam telak bagi strategi baru. Dan mungkin bila kita berpikir kreatif, bisa saja kita kombinasikan antara keduanya sehingga menghasilkan strategi baru. Luar biasa bukan ? Blog yang sedang di hadapan anda ini merupakan koleksi para penulis ‘Menguasai Pasar dan Mengeruk Untung’, di mana para penulisnya berbagi dengan ceritanya dalam merintis usaha, serta memberikan langkah-langkah jitu dalam pengelolaanya. Tapi ingat ! orang yang berani mengambil resiko dalam hidupnya adalah orang yang berani untuk menghadapi ‘kesuksean’, tetapi dibalik dari kesuksesan itu lubang ‘kegagalan’ juga terbuka. Maka blog ini di samping menawarkan teknik jitu merintis dan mengembangkan usaha, tetapi juga dilengkapi bagaimana bangkit dari kegagalan. Saya berharap, semoga blog ini dapat memberikan manfaat kepada siapa saja. Baik saya sendiri yang sedang membangun usaha, maupun orang lain yang kiranya memerlukan ‘gizi’ dalam usahanya agar berjalan lancar. Meskipun kesuksesan adalah kehendak-Nya, bukan berarti kita menyerah pasrah tidak berusaha. Dan ketika kita sudah mengerahkan seluruh kemampuan kita pun, kita tidak berhak memaksa kehendak-Nya untuk membuat harapan kita menjadi kenyataan. Karena terlalu bodoh bagi kita untuk menginginkan semuanya harus terjadi sesuai keinginan kita. Dia lebih tahu mana yang baik untuk kita. Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya, sehingga dalam menjalani hidup dan usaha kita barangkali, selalu mendapatkan hikmah yang terbaik untuk kita.