Tampilkan postingan dengan label Manajemen Gaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Gaji. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

INVESTASI ANGKUTAN KOTA


Assalamualaikum, Pak Safir Senduk. Saya ingin berkonsultasi pd bapak... Saya dengan suami saat ini berkeinginan untuk memulai usaha jasa angkutan kota. Bila untuk membeli satu buah angkutan kota (secondhand dgn kondisi msh bagus) kami perlu mengeluarkan uang seharga kurang lebih Rp 70 juta, dengan asumsi perhari pendapatan bersih (setoran) Rp 50.000,- serta pengeluaran servis dan ganti sparepart, apakah yang perlu kami perhitungkan untuk memulai bisnis ini, dan manakah yang lebih menguntungkan menyimpan uang kami di bank dengan suku bunga deposito 12-13 % / th atau memulai usaha ini? Bila suatu saat angkutan ini kami jual apakah tidak merugi dengan perhitungan nilai pemakaian barang? kami sangat membutuhkan jawaban Bapak, Atas jawaban bapak kami ucapkan terima kasih Wassalam.
Ibu SK
Jawab:
Halo,
Waalaikum salam Ibu SK. Kalau berbicara mana yang lebih menguntungkan, menyimpan uang di deposito atau memulai usaha ini, maka ayo kita hitung sama-sama! Katakanlah Anda memiliki uang sebesar Rp 100 juta. Kalau menyimpannya di bank, itu berarti Anda akan mendapatkan Rp 12 - 13 juta per tahun, dan setelah dikurangi pajak sebesar 20% ini berarti Anda akan mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 9,6 - 10,4 juta. Kalau untuk memulai usaha angkutan, dari Rp 100 juta itu, Rp 70 jutanya digunakan untuk membeli angkutan dan sisanya untuk mengurus perijinan, biaya operasional selama 3-6 bulan kedepan, dan lain-lainnya. Nah, sekarang mari kita hitung berapa yang Anda dapatkan dari usaha ini. Setiap hari Anda mendapatkan Rp 50 ribu, kalau angkutan Anda beroperasi selama hanya 25 hari selama satu bulan, jadi tidak satu bulan penuh. Jadi per bulannya Anda akan mendapatkan 25 x Rp 50 ribu = Rp 1,25 juta. Berarti selama setahun Anda akan mendapatkan 12 bulan x Rp 1,25 juta = Rp15 juta. Dari Rp 15 juta ini Anda perlu mengeluarkan pengeluaran untuk oli, spare part, pajak, dan lain-lain. Saya tidak tahu pasti berapa besarnya, tapi kita asumsikan saja 35% x Rp 15 juta = Rp 5,25 juta, berarti Anda akan mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 9,75 juta.
Kalau kita hitung bersama-sama, sepertinya tidak jauh berbeda kan? Tinggal memilih mana yang Anda sukai. Dengan menyimpan di Bank, Anda tinggal menunggu deposito Anda jatuh tempo. Sedangkan kalau Anda suka dengan tantangan berwirausaha, suka membantu orang lain dengan bekerja untuk Anda, maka usaha ini juga menguntungkan. Apalagi kalau Anda bisa mencari harga angkutan yang lebih murah & supir yang pandai merawat mobil. Dari pengalaman kerabat saya yang pernah punya usaha angkutan, bahwa yang paling penting diperhatikan dalam usaha ini adalah supir yang membawa mobil angkutan Anda. Kalau supirnya baik, bisa dipastikan bahwa mobil angkutan Anda tidak akan sering 'jajan'.
Demikian, semoga bermanfaat.

Minggu, 26 Juni 2011

BERINVESTASI DI REKSADANA UNTUK MASA PENSIUN

Nama saya Ruth, saya tinggal tinggal di kota Malang Jatim, umur saya 30 thn. Saya telah membaca buku Bapak tentang Perencanaan Program Pensiun. Dan saya tertarik untuk mengikuti program reksadana. Setiap bulan saya bisa menyisihkan gaji saya sebesar Rp. 200.000,-. Yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah program reksadana yang bisa saya ikuti dengan setoran hanya Rp. 200.000,- per bulan?
2. Jenis reksadana apa yang dapat saya ikuti, dan jangka waktu berapa tahun?
Saya sangat mengharapkan jawaban dari Bapak. Atas perhatiannya saya ucapkan banyak Terima Kasih.

Jawab :
Memang, bagi sebagian orang terkadang melupakan hal yang satu ini, yaitu mempersiapkan dana untuk pensiun nanti. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa pensiun masih lama, sehingga mereka biasanya menunda-nunda untuk menyiapkan dananya. Beruntung, Anda sudah bersiap-siap sejak saat ini untuk itu, sehingga tentunya akan meringankan beban keuangan untuk mendapatkan sejumlah dana yang nilainya sangat besar tersebut untuk kebutuhan pensiun Anda.
Ada beberapa produk keuangan yang bisa Anda pergunakan untuk menyiapkan dana pensiun. Salah satunya adalah reksadana. Mengapa? tentunya kita ketahui bersama, tiap tahunnya biaya hidup semakin tinggi atau perkiraan naik sekitar 10 persen, dan salah satu instrumen investasi yang dapat mengimbangi inflasi adalah reksadana. Reksadana adalah merupakan dana kelolaan yang di kumpulkan dan dikelola dari masyarakat atau investor oleh manajer investasi yang kemudian akan di investasikan pada produk investasi yang potensial untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Namun perlu diingat, sebagaimana namanya, yaitu produk investasi di mana di satu sisi mendatangkan hasil yang tinggi, di lain sisi juga mengandung risiko. Wah berisiko juga yah? memang mbak, di mana-mana yang namanya produk investasi pasti mengadung resiko. Tak perlu khawatir, para manajer investasi akan dengan pandai mengelola dana yang Anda percayakan kepada mereka dengan kemampuan yang dimiliki tentunya.
Saat ini sudah banyak perusahaan sekuritas yang menetapkan setoran awalnya hanya Rp. 750.000,-. Dan hanya dengan Rp.250.000,- Anda juga sudah bisa melakukan penyetoran rutin untuk menambah unit penyertaan yang Anda miliki. Nah, untuk jenis reksadana yang cocok untuk Anda, tergantung pada bagaimana profil Anda dalam menghadapi risiko. Apabila mbak Ruth senang berhadapan dengan risiko maka saya sarankan untuk mengambil reksadana campuran. Tapi apabila ingin "bermain" yang lebih aman, pakailah reksadana campuran atau pasar uang. Seperti kita ketahui bersama yah mbak, semakin tinggi risiko atas suatu produk investasi semakin tinggi pula hasil yang akan didapatkan. Nah, sekarang bagaimana dengan Anda?
Semoga bermanfaat.
Sumber : Sindo, Mei 2007

Kamis, 23 Juni 2011

MEMPERTIMBANGKAN UNTUK PENSIUN DINI

Pak Safir, melalui e-mail ini saya mohon bantuan untuk dapat kiranya memberikan solusi serta pencerahan bagi saya bagaimana dan apa sebaiknya yg harus dilakukan untuk merencanakan keuangan keluarga di masa datang. Saya karyawati swasta, usia 44 thn, mempunyai 3 orang anak usia 14, 10 dan 3,5 thn, saat ini ada penawaran pensiun dini di kantor dan saya tertarik ikut program tersebut yang insya Allah uang yang akan didapat adalah +/- Rp. 500 Juta. Suami bekerja di swasta, penghasilan +/- Rp. 6,5 juta/bulan, sementara pengeluaran rumah tangga +/- Rp. 8 Juta/bulan.
Yang menjadi pertanyaan :
1. Harus bagaimana saya memenuhi kebutuhan per bulan, sementara uang tersebut ingin saya tabung saja untuk keperluan masa depan, apakah hanya ditabung saja lalu diambil bunganya per bulan? bila demikian mungkin sama saja dengan tidak ada penambahan pemasukan karena bunga selalu habis diambil ?
2. Kalau ingin investasi, berapa persen kah dari uang tersebut yang aman dan tidak mengganggu untuk kebutuhan per bulannya. Kalau mau buka usaha bisa tidak yah?
Terima kasih dan salam hormat,
Feni - Bekasi

Jawaban:
Memang sih, biasanya adanya tawaran pensiun dini dari perusahaan sangat ditunggu-tunggu oleh para karyawan. Tapi tentunya juga butuh pertimbangan yang cukup matang, khususnya dari sisi keuangannya. Pertanyaanya sekarang, Apakah pesangon yang akan Anda terima itu nantinya bisa menggantikan penghasilan yang tentunya akan hilang setelah Anda berhenti bekerja.
Ok, sekarang coba Anda buat hitungan sederhana saja di atas kertas mbak. Kalau Anda jadi mengambil program pensiun dini, maka Anda akan mendapatkan uang pesangon sekitar 500 juta dan juga Anda butuh dana sebesar kurang lebih 1,5 juta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga perbulannya. Gimana cara mendapatkan dana kekurangan tersebut? Dan gimana juga cara mengelola uang pesangon itu sebaiknya?
Pertama, untuk menutupi kekurangan dana kebutuhan hidup keluarga perbulannya, Anda masukkan saja 80 persen dana tersebut ke dalam bentuk deposito. Kenapa deposito? Karena Anda membutuhkan produk keuangan yang dapat memberikan hasil tetap setiap bulannya sebagai pengganti pengasilan Anda selama ini. Katakanlah dengan tingkat bunga deposito dikisaran 6 persen, Anda akan mendapatkan sekitar 2 juta perbulannya. Nah, jumlah dana yang Anda butuhkan hanya 1,5 juta, maka sisanya bisa Anda investasikan lagi secara rutin untuk kebutuhan masa depan yang lainnya. Misalnya untuk persiapan pendidikan anak, pensiun dan lainnya. Bisa dengan cara membeli emas batangan atau ditabungkan lagi untuk modal usaha.
Kemudian untuk sisa yang 20 persennya lagi bisa Anda kembangkan melalui produk keuangan yang namanya reksadana. Loh kenapa harus ke reksadana? Karena dengan investasi ke reksadana, Anda tidak usah lagi memikirkan harus ke mana uang itu diinvestasikan. Reksadana ini dikelola oleh sekumpulan profesional dalam bidang keuangan yang dinamakan Manajer Investasi. Merakalah yang nantinya akan mengelola dana yang Anda tanamkan, dan nanti mereka akan memberikan laporan hasil investasi Anda setiap bulannya. Enak, bukan?
Saya rasa komposisi persentase tersebut sudah cukup pas untuk Anda mbak. Jadi kalau tidak ada perubahan dengan jumlah nilai pesangon yang diberikan, gak ada salahnya kok mbak untuk memanfaatkan program pensiun dini tersebut. Selain dari sisi keuangan sudah bisa terlihat nilainya memadai, Anda juga bisa lebih dekat lagi dengan buah hati dirumah. Menarik kan?
Dikutip dari Sindo, 20 April 2008

Rabu, 22 Juni 2011

KREDIT PEMILIKAN RUMAH

Tanya :
Pak Safir, Saya seorang pegawai, ingin bertanya tentang perencanaan keuangan untuk mengambil KPR. Perlu diketahui oleh Bapak penghasilan saya setiap bulan sebesar +/- Rp.5.000.000, saya ingin mengambil perumahan dengan harga sekitar +/- Rp. 226.000.000,00 s.d Rp. 230.000.000,00 dan saya mempunyai tabungan sebesar +/- Rp. 100.000.000,00, yang rencananya akan saya pergunakan untuk pembayaran DP dan untuk biaya administrasi, bea balik nama sewaktu mau akad kredit nanti. Dan saya mempunyai hutang bank sebesar Rp. 1.500.000. Apakah saya dianggap Mampu sewaktu akan melakukan akad kredit apabila saya mengambil KPR.
Jawab :
Rencana Anda untuk segera memiliki rumah sangat bagus sekali. Loh kenapa? Karena semakin cepat Anda memiliki rumah, baik itu melalui KPR atau melunasinya langsung, tentunya Anda memiliki kesempatan untuk memilih lokasi yang cocok dengan selera dan juga harganya. Mungkin kalau Anda tunda pembelian rumah hingga tahun depan atau dua tahun lagi misalnya, tentu lokasi yang saat ini Anda minati sudah dimiliki oleh orang lain.
Nah sekarang, Anda kira-kira dianggap mampu gak sih oleh pihak bank untuk mengambil KPR? Jawabnya ya, Anda bisa kok mas memiliki rumah melalui KPR. Harga rumah kan setiap tahunnya akan terus meningkat yang biasanya kenaikannya lebih tinggi dari pengenaan bunga KPR tersebut. Jadi, Anda bisa kok ambil jangka waktu yang panjang untuk pembayaran cicilannya, katakanlah selama 10-15 tahun. Dengan semakin panjangnya jangka waktu cicilann yang Anda ambil, tentunya besarnya cicilan yang harus Anda bayar bulanan otomatis jadi lebih rendah nilainya. Dalam mengelola keuangan rumah tangga, hutang memang mendapatkan perhatian yang cukup serius. Kenapa? Karena biasanya besarnya hutang ini menyebabkan seseorang akan mengeluarkan lebih banyak untuk membayar cicilannya. Yang jadi masalah, dalam pengeluaran rumah tangga tidak hanya ada hutang saja, tapi ada juga kebutuhan lainnya yang tentu perlu juga diperhatikan. Seperti pengeluaran untuk kewajiban sosial, investasi dan juga kebutuhan sehari-hari. Jadi, besarnya semua cicilan hutang, baik itu KPR dan hutang lainnya, yang boleh Anda lakukan adalah tidak lebih 30 persen dari penghasilan yang diterima.
Demikian, semoga bermanfaat.
Sumber : Sindo, 06 April 2008

Selasa, 21 Juni 2011

CARA BELAJAR MENABUNG

Pak Safir, saya boleh minta masukannya. Perkenalkan nama saya Nugroho, 35 tahun. Penghasilan sebulan Rp 4.000.000. Begini, saya mau ambil kredit Rp 25.000.000 dengan angsuran 687.500 untuk 60 bulan. (Bunga 13% pa = Rp 271.000,00) Dari kredit tersebut saya depositokan di sebuah koperasi, dan saya mendapat Rp 300.000,00 per bulannya. Maksud saya dengan demikian saya berusaha "nabung maksa" biar di bulan ke 60 saya punya tabungan Rp 25.000.000,00. Apakah langkah saya tepat? Atau ndak usah ambil kredit itu? Terima kasih banyak.
Nugroho – Semarang
Jawaban:
Mas Nugroho,
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang berupaya untuk bisa menabung. Salah satu caranya adalah yang seperti Anda lakukan saat ini. Saya rasa tidak masalah dengan langkah yang saat ini Anda tempuh. Karena menurut perkiraan saya, Anda adalah orang yang sulit untuk menabung, dan dengan cara ini mau tidak mau Anda jadi bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Bukan gitu, mas? Kenapa saya bilang langkah yang Anda ambil tepat? Karena saya melihat 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, membiasakan diri Anda menabung adalah hal yang sangat bagus. Dan kedua, hasil investasi dari dana yang Anda tanamkan dalam bentuk deposito di koperasi nilainya masih lebih besar dari besaran bunga kredit yang dikenakan. Tapi saran saya pastikan lagi, bahwa hasil yang diberikan oleh koperasi tersebut konsisten dengan nilai yang sama setiap bulannya. Karena kalau sampai hasilnya di bawah bunga kredit, Anda akan kehilangan nilai investasi itu sendiri. Yaitu mendapatkan untung dari selisih antara bunga kredit dan bunga hasil investasi di koperasi.
Mas, kalau masa 60 bulan itu sudah berlalu, saya sarankan Anda untuk tetap melakukan investasi dengan nilai yang sama tapi dengan sarana investasi yang lain. Karena saya yakin, rutinitas Anda untuk menyisihkan dana dalam jumlah yang pasti setiap bulannya sudah terbentuk menjadi kebiasaan dan sayang sekali kan kalau hal itu hilang begitu saja. Kemana Anda sebaiknya investasi? Saya sih lebih sarankan Anda untuk melakukan investasi dalam bentuk reksadana atau bisa juga ke obligasi ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah (ORI). Dengan sarana-sarana investasi tersebut, Anda akan mendapatkan hasil investasi yang lebih optimal lagi dengan risiko yang lebih terukur. Selamat berinvestasi. Semoga berhasil.
Sindo, 24 Februari 2008

Kamis, 12 Mei 2011

Pos-Pos Pengeluaran di Masa Depan yang Umumnya yang Harus Diperhatikan Sejak Sekarang


Apa sih pos-pos pengeluaran di masa depan yang harus dipersiapkan sejak sekarang? Banyak! Saya sebutkan lima pos pengeluaran yang paling sering dibutuhkan. Lima pos pengeluaran yang paling sering dibutuhkan, antara lain:
1. Pendidikan Anak
2. Pensiun
3. Properti
4. Bisnis
5. Liburan dan Perjalanan Ibadah
1. Pendidikan Anak
Kalau Anda membaca buku saya, Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak, atau sering main ke website kami di www.perencanakeuangan.com Anda pasti tahu bahwa pendidikan untuk anak itu mahal. Kalau anak Anda sekarang baru berusia 2 tahun, biaya kuliah anak Anda ketika ia berusia 17 tahun bisa dipastikan sekitar Rp.300 juta lebih. Kabar baiknya, Anda bisa mempersiapkan dana pendidikan sebanyak itu asalkan mau menyisihkannya dari sekarang. Ada sejumlah produk investasi yang bisa Anda pilih. Asuransi pendidikan, misalnya, adalah produk persiapan dana pendidikan yang paling popular saat ini di Indonesia. Produk ini tersedia dalam pilihan pembayaran bulanan, tiga bulanan, enak bulanan, atau tahunan, tapi ada juga yang dalam bentuk sekali bayar kalau memang dana Anda cukup. Nantinya perusahaan asuransi Anda akan memberikan dana pendidikan setiap kali anak Anda masuk ke jenjang-jenjang pendidikan tertentu, yang biasanya dimulai ketika SD. Selain asuransi pendidikan, pilihan lain yang juga mulai populer ialah tabungan pendidikan. Pada tabungan pendidikan, Anda seperti membuka tabungan biasa, tapi uang Anda dikunci. Nanti ketika anak Anda masuk TK, SD, SMP, dan seterusnya, tabungan Anda baru bisa diambil. Tabungan pendidikan ini diterbitkan oleh bank, bekerja sama dengan perusahaan asuransi jiwa. Nantinya kalau Anda sebagai orang tua meninggal dunia, dana pendidikan dari tabungan pendidikan tersebut tetap akan diberikan.
Produk-produk lain, seperti reksadana atau koin emas, juga bisa dipilih. Tip saya, kalau Anda menyisihkan uang untuk biaya pendidikan dari penghasilan Anda, sementara penghasilan Anda didapat dari bekerja secara fisik, Anda harus mempertimbangkan untuk mengambil proteksi, seperti asuransi, agar bisa berjaga-jaga kalau terjadi risiko kematian. Ingat, kalau Anda meninggal, penghasilan Anda pasti akan berhenti. Kalau penghasilan Anda berhenti, siapa yang akan meneruskan tabungan Anda? Dengan mengambil proteksi berupa asuransi, entah yang berdiri sendiri atau langsung dalam bentuk asuransi pendidikan atau asuransi pada tabungan pendidikan, risiko hilangnya penghasilan karena kematian bisa diantisipasi.
2. Pensiun
Pensiun adalah salah satu pos yang juga harus dipersiapkan supaya kelak Anda bisa hidup dengan standar yang Anda inginkan. Hal pertama yang harus diperhatikan ialah sumber penghasilan macam apa yang Anda inginkan ketika pensiun? Apakah cukup hanya dari jamsostek (hmm … nggak begitu cukup kali ya), penghasilan pensiun bulanan dari kantor (paling hanya 70% dari gaji terakhir), atau dana pensiun lump sum (sekali bayar) yang diberikan di akhir masa kerja Anda? Bagaimana kalau Anda memcoba mempertimbangkan alternatif sumber lain untuk mempersiapkan masa pensiun? Pertama-tama, Anda bisa mengikuti Program Pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) dan mengambil hasil dananya pada usia yang bisa Anda pilih sendiri. Katakan saja di usia 55 tahun. Pada DPLK, Anda menyetor uang setiap bulan yang diambil dari gaji Anda, kemudian uang itu akan diputar oleh Manajer Investasi yang bekerja pada Perusahaan DPLK Anda. Jangan khawatir, Manajer Investasi itu umumnya jago-jago kok. Nanti, ketika pensiun, kita harapkan uang Anda yang diputar oleh Manajer Investasi Anda sudah tumbuh berkembang dan bisa dinikmati. Alternatif lain ialah melakukan investasi sendiri dan menikmati hasilnya ketika pensiun. Jadi, Anda tidak perlu lagi menyetor ke Perusahaan DPLK karena di sini Andalah yang akan memutar serta menginvestasikan sendiri dana Anda setiap bulan yang diambil secara rutin dari gaji Anda. Kalau ingin melakukan cara ini, pastikan Anda menguasai dan mau belajar tentang kiat yang baik dalam investasi.
Alternatif lain yang banyak juga dipilih orang untuk masa pensiun ialah membuka bisnis sejak sekarang. Ketika Anda pensiun, diharapkan bisnis itu sudah berjalan dengan baik dan hasilnya bisa dinikmati dan digunakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran di masa pensiun. Memang tidak gampang membuka bisnis sendiri. Perlu mental yang cukup baik untuk bisa berhasil. Kalau Anda merasa belum mempunyai mental yang cukup baik, saya rasa tidak ada salahnya Anda memulai dari sekarang. Mumpung pensiun Anda masih jauh. Anda pun memiliki kesempatan untuk jatuh bangun terlebih dahulu di bisnis tersebut. Dengan demikian, ketika pensiun, diharapkan Anda sudah terlatih dan kondisi bisnis Anda sudah berada di atas agar hasilnya bisa dinikmati.
3. Properti dan kepemilikan lain Tanah, rumah, dan kendaraan kadang-kadang menjadi tujuan di masa datang yang harus disiapkan. Bila tujuan ini merupakan salah satu pos pengeluaran di masa datang yang juga menjadi keinginan Anda, ada dua alternatif dalam mempersiapkannya.
Pertama, dengan menabung sendiri. Dengan gaji saat ini, Anda bisa menabung sedikit demi sedikit supaya bisa membeli properti itu dalam beberapa tahun mendatang. Oleh karena harga tanah, rumah, dan kendaraan mahal, bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah, Anda bisa menggunakan alternatif kedua, memanfaatkan fasilitas pinjaman. Fasilitas pinjaman dari siapa? Pertama-tama bisa dari bank. Pada saat ini hampir semua bank memberikan fasilitas pinjaman untuk pembelian rumah atau kendaraan yang bisa Anda manfaatkan. Sejumlah bank pada saat ini bahkan bersaing untuk bisa mendapatkan nasabah-nasabah kredit. Selain bank, perusahaan pembiayaan juga banyak memberikan tawaran pembiayaan untuk kendaraan. Jangan lupa, untuk kredit kendaraan, perusahaan pembiayaan saat ini mengungguli bank dalam segi jumlah nasabah. Ini bisa terjadi karena proses disetujui atau tidaknya permohonan aplikasi kredit di perusahaan pembiayaan biasanya jauh lebih cepat dibandingkan dengan di bank. Jangan lupa, entah Anda meminjam di bank atau perusahaan pembiayaan, tentu Anda harus mengembalikan pinjaman tersebut setiap bulan dalam bentuk cicilan pokok dan bunga, yang diambil dari gaji Anda.
4. Bisnis
Beberapa di antara Anda yang sekarang bekerja sebagai karyawan pasti pernah berpikir untuk membuka bisnis sendiri. Namun, dikarenakan alasan klise: modal, akhirnya bisnis tersebut nggak jadi dibuka. Padahal, membuka bisnis sendiri, selama tidak mengganggu waktu kerja atau tidak berada di bidang yang sama dengan perusahaan tempat bekerja sekarang, sering kali menjadi impian banyak karyawan. Cuma ya itu, mentok-mentoknya masalah modal. Dari pengalaman saya, keluhan atas kurangnya modal sering kali bukanlah alasan sebenarnya dari mereka yang menunda-nunda untuk membuka bisnis sampingan di luar pekerjaan, tapi lebih dikarenakan excuse saja. Hanya alasan! Apakah bisnis Anda nggak bisa jalan karena alasan modal? Jangan lupa, bila Anda pada saat ini bekerja sebagai karyawan, bisnis yang Anda buka sekarang pasti skalanya masih sangat kecil. Dengan skala yang sangat kecil, apakah modal yang dibutuhkan harus betul-betul besar? Cobalah hitung lagi berapa sebenarnya modal uang yang Anda butuhkan untuk memulai bisnis, siapa tahu bisa lebih kecil. Pertanyaannya, dari mana modalnya? Lebih baik dari menabung sendiri. Boleh saja Anda langsung meminjam uang untuk membuka bisnis Anda sekarang. Saran saya, pinjamlah kalau memang Anda betul-betul kepepet. Kalau tidak, saya menyarankan Anda untuk menabung sendiri. Jangan lupa, kalau Anda meminjam, toh Anda harus mengembalikannya juga. Sama seperti menabung sendiri, kan?
5. Liburan dan perjalanan ibadah
Liburan dan perjalanan ibadah juga merupakan tujuan di masa datang yang sering kali diinginkan banyak keluarga. Jangan lupa, liburan dan perjalanan ibadah juga membutuhkan dana yang cukup besar. Pergi haji, misalnya. Biayanya cukup besar. Pertama, dollar di Indonesia cukup mahal (jadi ingat waktu dollar kita masih Rp.2.500,-an). Kedua, setiap tahun harga-harga seperti tiket pesawat dan akomodasi memang naik. Bagaimana dengan liburan? Ini juga bisa besar. Jangan lupa, biaya liburan biasanya sangat bergantung pada lima hal: transportasi, akomodasi, makan dan minum, rekreasi di objek wisata, dan oleh-oleh. Semua itu umumnya cukup mahal. Apalagi kalau Anda memutuskan untuk berlibur ke luar negeri. Banyak di antara kita yang ingin pergi ke negara ini atau negara itu hanya karena kita sering melihatnya di teve. Kalau Anda ingin mempersiapkan dananya, pesan saya: jangan terlalu mengandalkan utang. Tabung saja uangnya. Saya sering melihat seseorang yang memutuskan pergi berlibur ke luar negeri dengan memanfaatkan fasilitas utang, entah fasilitas utang di kartu kredit atau dari kantor.

Sabtu, 07 Mei 2011

Sisihkan untuk Pos-pos Pengeluaran di Masa yang Akan Datang (Bag 2)


Kita lanjutkan materi mas Safir Senduk di postingan Menyiapkan Pos-Pos Pengeluaran untuk Masa Depan kemarin. Kali ini kita membahas keempat alasan mengapa kebanyakan kita tidak memperdulikannya:
1. Merasa belum urgent, toh masih lama. Banyak orang tidak mau mempersiapkan dana sejak sekarang untuk semua pengeluarannya di masa depan hanya karena merasa belum urgent. Toh masih lama, katanya. Contohnya, anak Anda sekarang masih berusia 5 tahun. Anda merasa belum perlu mempersiapkan dana untuk si anak agar bisa masuk kuliah di usia 17 tahun nanti. Toh masi 12 tahun lagi. Justru karena masih memiliki kesempatan 12 tahun lagi, Anda bisa menyisihkan uang sedikit-sedikit saja dari sekarang. Sekadar info, kalau Anda terlambat menpersiapkan dana kuliah dan baru mempersiapkannya ketika si anak berusia 14 tahun, Anda akan merasa jauh lebih berat. Waktu Anda untuk mempersiapkannya bukan 12 tahun lagi, tapi hanya tiga tahun. Jadi, tidak ada waktu yang terlalu dini untuk mempersiapkannya. Dalam mempersiapkan dana untuk masa depan, time is your ally … waktu adalah sekutu. Artinya, semakin lama waktu yang Anda miliki, semakin ringan beban Anda untuk mempersiapkannya dari sekarang.
2. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang sudah punya cukup dana. Dalam sebuah seminar di Bandung, ketika saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk saling sharing, ada seorang peserta wanita yang maju ke depan. Sambil memegang mik, dengan antusias ia mulai bercerita …. “Pak Safir, saya pengusaha dengan dua anak. Beberapa tahun lalu, saya sempat meremehkan arti sebuah persiapan. Waktu anak pertama saya masuk SD, saya bisa membayar biaya pendidikannya dari dana yang saya miliki. Maklumlah, Pak, bisnis saya waktu itu lagi bagus-bagusnya ….”
Hmm, boleh juga … pikir saya. Ia melanjutkan. “Lantas, ada teman yang menawari saya untuk mengambil asuransi pendidikan untuk anak kedua saya. Saya pikir, aah … buat apa sih ambil asuransi. Toh dana saya untuk membayar sekolah anak kedua pasti cukup nanti. Apalagi saya pengusaha. Nggak mungkin nggak cukup. Tapi, karena kasihan pada teman saya yang bolak-balik terus menawari saya, saya akhirnya mengambil asuransi pendidikan itu.” Peserta seminar kelihatan mulai tertarik dengan ceritanya. Mereka menunggu klimaks apa yang akan ia berikan pada akhir cerita. “Tapi Pak Safir, tahu nggak, ketika anak saya yang kedua akan masuk SD, bisnis saya mengalami krisis. Toko yang saya buka sejak lama dan sangat laris dengan sangat terpaksa saya tutup karena digusur oleh pemilik gedung. Walaupun saya punya pemasukan dari bisnis saya yang lain, tapi toko itulah yang memberikan pemasukan terbesar buat saya. Akhirnya, asuransi pendidikan yang saya ambil itulah yang justru menyelamatkan sekolah anak saya. Padahal asuransi pendidikan itu saya ambil hanya karena kasihan … eh, ketika toko saya ditutup, malah saya yang harus dikasihani. Untung ada asuransi pendidikan itu.” Intinya, jangan terlena dengan kekayaan atau dana besar yang Anda punyai sekarang. Bagaimana pun, itu bukan jaminan bahwa Anda bisa membayar pengeluaran-pengeluaran di masa depan. Jaminan Anda adalah berapa banyak dari kekayaan yang Anda sekarang yang Anda sisihkan untuk pengeluaran di masa depan.
3. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang penghasilan saya sudah cukup besar. Ah, ini sih biasa, apalagi bagi mereka yang hidup di perkotaan. Karier bagus dengan gaji besar cenderung membuat orang merasa aman. Anggap saja Anda ingin membeli rumah baru dalam waktu lima tahun mendatang. Anda memang sudah mempunyai rumah sendiri sekarang dan ingin membeli rumah kedua untuk investasi. Nanti, lima tahun lagi, begitu mungkin pikir Anda. Dengan penghasilan besar yang didapat sekarang, kebanyakan orang berpikir bahwa dalam lima tahun mereka pasti akan memiliki penghasilan yang lebih besar lagi. Nah, karena ada penghasilan yang lebih besar dalam lima tahun mendatang, pasti rumah itu bisa kebeli.
Belum tentu! Penghasilan besar Anda sekarang bukan jaminan bahwa Anda akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi pada beberapa tahun mendatang.  PHK, resesi ekonomi, pengambilalihan perusahaan, bahkan pengurangan pegawai besar-besaran, bisa membuat penghasilan Anda yang besar sekarang menjadi stagnan atau lebih kecil dibanding sebelumnya. Bahkan, kalaupun betul penghasilan Anda naik terus, jangan lupa bahwa kenaikan harga barang dan jasa sering kali malah lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan gaji Anda. Kalau gaji Anda hanya naik 10% per tahun, harga barang dan jasa ─termasuk harga-harga dari pos-pos pengeluaran Anda di masa depan─bisa jadi naik hingga 20% per tahun. Jadi, jangan andalkan penghasilan besar Anda sekarang karena itu bukan jaminan bahwa Anda bisa mempersiapkan dana untuk pos-pos di masa depan. Lebih aman, sisihkan deh dari sekarang.
4. Pasrah. Biarkan saja hidup ini mengalir seperti air, toh nanti uangnya pasti akan datang sendiri. “Jangan pernah memiliki prinsip membiarkan hidup mengalir bagaikan air. Anda punya pos-pos pengeluaran di masa depan yang dananya harus dipersiapkan sejak sekarang.” Ini alasan paling “antik” yang sudah sering saya dengar. Ratusan kali saya mendengar kata-kata seperti ini: “Persiapan? Aaah, gak usahlah. Biarkan saja hidup ini mengalir seperti air, nanti juga uangnya pasti ada …. Saya kan selalu beruntung ….” Air memang mengalir, tapi Anda ‘kan bukan air. Anda manusia yang mempunyai hak untuk menentukan ke mana Anda dan keluarga yang Anda bawa akan “mengalir”. Ratusan kali pula saya melihat “orang-orang air” ini menyesal ketika waktunya tiba. Di usia 40 atau 50 misalnya, mereka tidak bisa pergi haji seperti yang mereka inginkan, tidak bisa pensiun sesuai dengan standar yang mereka mau, tidak bisa liburan dengan keluarga ke tempat-tempat yang mereka impikan sejak dulu, dan yang paling nyesek, mereka sadar bahwa umur mereka tidak bisa diulang agar mereka bisa memperbaiki kesalahan mereka. Jangan heran kalau saya tahu cerita-cerita seperti itu karena banyak di antara mereka yang akhirnya jadi klien di kantor saya. Kesimpulannya, air memang mengalir. Namun, Anda adalah manusia yang mempunyai hak untuk menentukan kemana Anda dan keluarga Anda akan pergi mengalir. Jangan lagi asal mengikuti air yang mengalir karena kalau air itu mengalir ke got, masa Anda mau ikut?

Senin, 02 Mei 2011

Sisihkan untuk Pos-pos Pengeluaran di Masa yang Akan Datang


Anda pasti pernah mendengar nama PT Pegadaian.
Pegadaian adalah salah satu tempat yang bisa menerima barang yang Anda gadaikan. Arti gadai disini adalah Anda bisa “menjaminkan” barang Anda dan mendapatkan pinjaman uang yang besarnya mungkin sekitar 70─80% dari nilai barang yang Anda gadaikan. Setelah satu waktu tertentu, Anda diberi hak menebus kembali barang yang Anda gadaikan. Tentunya setelah ditambah bunga. Salah satu masa puncak yang dialami pegadaian setiap tahunnya adalah ketika akan memasuki tahun ajaran baru di sekolah. Artinya, setiap menjelang tahun ajaran baru yang biasanya jatuh di bulan Juni atau Juli. Nah, pada bulan Mei, pegadaian sudah ramai dikunjungi orang yang ingin menggadaikan barang. Ini karena setiap kali memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua yang tidak memiliki dana cukup untuk biaya pendidikan yang biasanya harus dibayar─kalau bisa─jauh sebelum si anak masuk sekolah.
Tidak tepat sebetulnya kalau saya mengatakan bahwa para orang tua tidak memiliki dana; yang lebih pas adalah “tidak mempersiapkan” dana. “Setiap menjelang tahun ajaran baru , kantor pegadaian selalu dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menggadaikan barangnya untuk mendapatkan dana tunai agar bisa membayar uang sekolah anaknya.” Katakan saja Anda baru memiliki anak yang baru lahir di tahun 2005. Berarti, Anda  sudah tahu kapan si anak akan masuk TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Anda berarti juga harus tahu bahwa Anda perlu mengeluarkan uang pada tahun 2009 agar si anak bisa masuk TK. Anda juga harus tahu akan ada pengeluaran lagi di tahun 2011 untuk si anak agar bisa masuk SD. Begitu juga saat anak Anda masuk SMP, SMA dan perguruan tinggi. Anda mungkin tidak mempersiapkan dana pendidikan biarpun sudah tahu bahwa Anda mempunyai kewajiban membayar biaya pendidikan tersebut. Akibatnya, begitu tahun 2009 datang, Anda tidak mempunyai dana yang cukup untuk membayar biaya pendidikan anak Anda untuk masuk TK. Begitu juga tahun 2011 ketika si anak masuk SD. Begitu juga ketika masuk SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Akibatnya, pegadaian dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menggadaikan barang agar bisa mendapatkan dana untuk membayar biaya pendidikan. Padahal, itu terjadi bukan karena Anda “tidak punya” uang, tapi karena Anda “tidak mempersiapkan”-nya. Saya tidak ingin membahas biaya pendidikan, tetapi saya ingin menyarankan kepada Anda untuk mempersiapkan dana sejak sekarang agar Anda bisa membayar pos-pos pengeluaran yang sudah pasti muncul di masa depan. Kebanyakan kita─bahkan mungkin termasuk Anda─terjebak hidup hanya untuk hari ini, tapi melupakan bahwa masih ada pos-pos pengeluaran di masa depan yang harus dipersiapkan.
Ada empat alasan mengapa orang tidak mempersiapkan dana sejak sekarang untuk membayar pos-pos pengeluaran yang penting di masa depan.
1. Merasa belum urgent, toh masih lama.
2. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang sudah punya cukup dana.
3. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang penghasilan saya sudah cukup besar.
4. Pasrah. Biarkan saja hidup ini mengalir seperti air, toh nanti uangnya pasti akan datang sendiri.
Kita bahas keempat alasan di atas di postingan selanjutnya.

Rabu, 09 Maret 2011

3 Trik Untuk Bisa Menyisihkan Penghasilan

Pada kenyataannya, saya sering menemukan ada banyak orang yang─walaupun penghasilannya besar─sering kali kesulitan untuk menyisihkan uang dari penghasilannya. Bukan satu dua kali saya bertemu dengan orang yang punya gaji hingga sepuluh juta, bahkan dua puluh juta, tapi teteeeeup saja susah buat mereka untuk bisa menyisihkan penghasilan agar bisa diinvestasikan dan diputar menjadi lebih besar lagi. Oleh karena itu, saya punya 3 trik yang mungkin bisa Anda pakai untuk bisa menyisihkan penghasilan sebelum penghasilan itu habis Anda pakai. 
1. Menabunglah dimuka, jangan dibelakang. Coba lihat, apakah selama ini Anda selalu menabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda? Bila ya, pantas saja Anda jarang bisa menabung. Kenapa? Oleh karena, uang Anda selalu habis tak berbekas. Maklum, uang memang lebih enak dipakai daripada ditabung. Ya, kan? Jadi, daripada ditabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda, kenapa tidak mencoba untuk menabung di muka segera setelah Anda mendapatkan penghasilan? Katakan saja Anda dapat penghasilan tiap tanggal 26 setiap bulan. Cobalah menabung setiap tanggal 26, 27, atau 28 sebelum Anda memakai penghasilan itu. “Loh, nanti penghasilan saya habis dong?” begitu mungkin kata Anda. Ya biar saja, toh Anda sudah sisihkan dulu sebelum penghasilan itu dipakai, kan? “Lho, nanti uang untuk biaya hidup saya dan keluarga berkurang dong?” Hallah, kalaupun penghasilan Anda naik, toh penghasilan itu akan habis juga, kan? Jadi, sebelum habis, kenapa Anda tidak selamatkan dulu sebagian, daripada nabungnya di belakang terus habis? Ya nggak? 
2. Minta tolong kantor yang memotongnya untuk Anda. Pada beberapa kasus, Anda mungkin bisa minta tolong kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda dan melakukan proses menabungnya buat Anda. Saya kasih contoh, kalau Anda punya investasi di reksadana, pembelian reksadana tersebut harus dilakukan dengan mentransfer uang ke rekening bank kustodian mereka. Nantinya uang itu oleh mereka dibelikan unit reksadana. Disini, Anda bisa meminta kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda di muka dan melakukan proses transfer itu sehingga Anda tidak perlu lagi repot-repot melakukan proses menabung. Toh, Anda tetap menabung di muka, kan? Pertanyaannya sekarang, memang bisa kantor melakukannya? Bisa dong. Cuma, Anda harus ngomong dulu ke mereka. Wong kalau anda punya utang ke kantor saja cara pengembalian yang mereka minta adalah dengan sistem potong gaji, kan? Kalau mereka bisa memotong gaji Anda untuk menutupi utang yang mereka berikan buat Anda, apalagi kalau Anda cuma minta kantor melakukan proses menabung buat Anda? All you have to do is just ask …. 
3. Pakai celengan. Eit, jangan kaget, yang namanya celengan itu tidak selalu buat anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa. Bedanya adalah apa yang Anda celeng. Kalau anak kecil nyeleng koin, entah seratus, lima ratus, atau seribu, Anda bisa nyeleng─katakan─lembaran dua puluh ribu rupiah. Lho, bagaimana caranya? Gampang: setiap kali Anda mendapatkan lembaran uang dua puluh ribu rupiah, tetapkan tekad: JANGAN PERNAH MENGGUNAKAN UANG ITU UNTUK BELANJA. Langsung saja masukkan ke celengan. Jadi, setiap kali bertemu lembaran uang dua puluh ribu, langsung dicelengin. Setiap kali bertemu lembaran dua puluh ribu, celeng lagi. Begitu seterusnya. Anda akan kaget begitu tahu berapa jumlah yang bisa Anda kumpulkan di akhir bulan. Misalnya, Anda belanja barang senilai Rp.15.000,- dengan menggunakan lembaran uang Rp.50.000,-. Berarti, Anda akan punya kembalian sebesar Rp.35.000,-, yang terdiri atas selembar dua puluh ribu dan tiga lembar lima ribu. Nah, celengin deh uang dua puluh ribu Anda. Anda toh sudah menetapkan tekad sebelumnya untuk tidak memakai lembaran dua puluh ribu itu, kan?
Work smart and hard !!!