Jumat, 08 April 2011

Tahukan Anda apa perbedaan NGUTANG dan NABUNG ?

Menabung berarti bersusah-susah dulu, bersantai-santai kemudian. Artinya, Anda bekerja keras di depan, setelah itu merasakan nikmatnya di belakang. Kalau ngutang, berarti Anda bersantai-santai dulu, baru merasakan susahnya di belakang. Sekali lagi, nabung berarti Anda bekerja keras dulu, baru mendapatkan nikmatnya di belakang, sedangkan ngutang berarti Anda menikmati nikmatnya di depan, setelah itu melakukan kerja keras.
Kebanyakan orang Indonesia lebih senang ngutang daripada nabung. Ada satu cerita menarik tentang “utang” ini.
Alkisah di negeri antah-berantah, diadakanlah sebuah kontes. Nama kontes itu Kontes Gajah Menangis. Ada seekor gajah yang seumur hidupnya tidak pernah menangis. Banyak orang disekitarnya berputus asa karena bingung melihat kenapa si gajah tidak pernah menangis. Oleh sang raja di negeri tersebut, akhirnya diadakanlah sebuah kontes yang memberikan tantangan bagaimana agar si gajah bisa menangis.
“Seorang ekonom asal Indonesia berhasil membuat seekor gajah menjadi menangis tersedu-sedu setelah sang ekonom menyebutkan besarnya utang Indonesia.”
Pukul 10 pagi, dimulailah kontes tersebut. Si gajah dengan badan besarnya duduk, dan mulailah para peserta satu per satu mengeluarkan keahliannya di depan si gajah, mencoba membuatnya menangis. Peserta pertama adalah peniup seruling dari India. Dengan serulingnya, ia mulai memainkan lagu sedih. Lagunya sangat mendayu-dayu dan menyayat hati. Selama setengah jam lagu itu dimainkan, eeeh … bukan nya menangis, si gajah malah ketiduran. Peniup seruling dari India itu pun mundur.
Peserta kedua, pendongeng anak-anak dari Swedia. Dengan bukunya, ia mulai menceritakan kisah sedih yang pernah ia buat dan ia terbitkan di seluruh dunia. Setengah jam berlalu, bukannya sedih dan menangis, si gajah malah melongo mendengarkan kisah-kisah si pendongeng.
Peserta ketiga, seorang ekonom dari Indonesia. Dengan santai, si ekonom datang ke arah si gajah yang sedang duduk, lalu mengarahkan mulutnya ke telinga si gajah dan membisikkan sesuatu. Hanya satu menit, si gajah langsung berteriak melengking dan menangis sejadi-jadinya.
Akhirnya, orang dari Indonesia itulah yang memenangkan kontes. Apa yang dibisikkan si ekonom Indonesia kepada si gajah?
“Utang Indonesia lebih dari Rp.3 triliun ….”

Rabu, 09 Maret 2011

SEBELUM ANDA MEMUTUSKAN UNTUK MENJADI KAYA

Karyawan juga bisa kaya !!!
Pada postingan kali ini kita belajar bagaimana cara mengatur uang untuk karyawan sehingga dapat mencukupi kebutuhan. syukur-syukur menjadi kaya. berikut ini adalah artikel dari Mas Safir Senduk,alumni STIE IBMI Jakarta. Mas Safir juga sering mengisi agenda-agenda baik di media cetak seperti NOVA dalam rubrik 'Ulas Uang', Harian Seputar Indoensia dalam rubrik 'Klinik Investasi', dan Majalah Matra dalam rubrik 'Solusi'. Selain itu juga mengisi di Radio Indika 91.6 FM Jakarta, Radio Pas 92,4 FM Jakarta, 106,3 FM Bandung, 104,3 FM Surabaya, dan 106.0 FM Semarang. Beliau juga mendirikan biro perencana keuangan masyarakat yang menjadi rujukan masyarakat, mahasiswa, karyawan, dan lain sebagainya.  Langsung saja kita telaah yuk...
Anda mungkin bertanya: “Bagaimana caranya saya bisa menumpuk kekayaan kalau penghasilan sebagai karyawan di kantor tidak besar?” Jangan kaget, dari pengalaman saya memberikan materi tentang pengelolaan keuangan, ada 3 pemikiran yang harus Anda miliki sebagai seorang karyawan:
1. Berapa pun gaji yang diberikan perusahaan kepada Anda, tidak─sekali lagi tidak─menjamin apakah Anda bisa menumpuk kekayaan. Kalau penghasilan Anda sekarang Rp.2 juta per bulan, Anda pikir hidup Anda akan lebih baik dan Anda bisa menumpuk kekayaan kalau perusahaan Anda memberikan gaji Rp.5 juta per bulan? No way, Maan …
Belum tentu. Anda sering dengar nggak: ada banyak orang yang bolak-balik pindah perusahaan hanya karena mengejar gaji yang lebih tinggi? Kenyataannya, setelah ia pindah dan punya gaji yang lebih besar, gajinya teteeeeup saja habis tanpa ada kekayaan yang bisa ditumpuk. Ini karena berapa pun gaji yang Anda dapat, tidak menjamin apakah Anda bisa menumpuk kekayaan, yang menjamin adalah bagaimana cara Anda mengelola gaji tersebut, termasuk kalau gaji itu benar memang ngepas dengan kondisi Anda sekarang.
2. Jangan selalu menjadikan kondisi Anda di rumah─entah Anda banyak tanggungan, banyak utang, atau boros─sebagai alasan untuk selalu minta naik gaji. Tahu nggak, kalau Anda mendapat gaji dengan jumlah angka tertentu, pastilah perusahaan Anda sudah memiliki hitungan sendiri terhadap besarnya jumlah gaji yang diberikan.
Contoh ya: kalau perusahaan memberikan gaji pada Anda sebesar Rp.2 juta per bulan, angka itu adalah angka yang memang sudah disesuaikan dengan jabatan dan daftar pekerjaan (job description) yang harus Anda lakukan setiap harinya. Perusahaan tidak akan memberi Anda gaji yang juga lebih besar hanya karena Anda belum punya rumah, belum punya motor, dan selalu kehabisan uang di tengah bulan. Perusahaan hanya akan memberi Anda gaji sesuai dengan job description Anda, bukan disesuaikan dengan situasi dan kondisi di rumah Anda. Artinya, kalau anda merasa bahwa gaji Anda koq sepertinya nggak cukup untuk membiayai keluarga Anda yang anaknya banyak, yah, itu bukan salah perusahaan Anda. Toh ketika anda menambah anak, Anda nggak minta izin dulu ‘kan ke perusahaan?
3. Menjadi kaya bergantung 100% pada apa yang Anda lakukan terhadap keuangan Anda, tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda. Ya, dalam soal menumpuk kekayaan: you are on your own. Itu urusan Anda sepenuhnya. Menjadi kaya bergantung pada apa yang Anda lakukan, dan tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda. Memang sih, akan enak memang kalau perusahaan memberikan banyak hal kepada Anda sebagai karyawannya. Akan tetapi, kalau Anda mau kaya, itu semua bergantung pada apa yang Anda lakukan terhadap penghasilan dan fasilitas yang Anda dapatkan. Saya sering kali melihat ada banyak orang yang pindah kerja, berharap gaji yang lebih besar dengan harapan untuk jadi kaya, tapi ia sendiri tidak melakukan apaapa untuk bisa menjadi kaya. Ia tidak berusaha untuk jadi lebih hemat, ia tidak berusaha untuk menambah pengetahuannya agar bisa jadi kaya, ia tidak berusaha mengetahui apa cara yang baik dalam mengelola gajinya, dan tidak berusaha untuk berubah. Ia hanya meloncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mendapatkan gaji yang lebih besar agar bisa jadi kaya. Kenyataannya, untuk menjadi kaya sepenuhnya bergantung pada Anda, tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda.
Itulah 3 hal yang harus ada di pikiran Anda sebelum memutuskan untuk menjadi kaya sebagai seorang karyawan.

3 Trik Untuk Bisa Menyisihkan Penghasilan

Pada kenyataannya, saya sering menemukan ada banyak orang yang─walaupun penghasilannya besar─sering kali kesulitan untuk menyisihkan uang dari penghasilannya. Bukan satu dua kali saya bertemu dengan orang yang punya gaji hingga sepuluh juta, bahkan dua puluh juta, tapi teteeeeup saja susah buat mereka untuk bisa menyisihkan penghasilan agar bisa diinvestasikan dan diputar menjadi lebih besar lagi. Oleh karena itu, saya punya 3 trik yang mungkin bisa Anda pakai untuk bisa menyisihkan penghasilan sebelum penghasilan itu habis Anda pakai. 
1. Menabunglah dimuka, jangan dibelakang. Coba lihat, apakah selama ini Anda selalu menabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda? Bila ya, pantas saja Anda jarang bisa menabung. Kenapa? Oleh karena, uang Anda selalu habis tak berbekas. Maklum, uang memang lebih enak dipakai daripada ditabung. Ya, kan? Jadi, daripada ditabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda, kenapa tidak mencoba untuk menabung di muka segera setelah Anda mendapatkan penghasilan? Katakan saja Anda dapat penghasilan tiap tanggal 26 setiap bulan. Cobalah menabung setiap tanggal 26, 27, atau 28 sebelum Anda memakai penghasilan itu. “Loh, nanti penghasilan saya habis dong?” begitu mungkin kata Anda. Ya biar saja, toh Anda sudah sisihkan dulu sebelum penghasilan itu dipakai, kan? “Lho, nanti uang untuk biaya hidup saya dan keluarga berkurang dong?” Hallah, kalaupun penghasilan Anda naik, toh penghasilan itu akan habis juga, kan? Jadi, sebelum habis, kenapa Anda tidak selamatkan dulu sebagian, daripada nabungnya di belakang terus habis? Ya nggak? 
2. Minta tolong kantor yang memotongnya untuk Anda. Pada beberapa kasus, Anda mungkin bisa minta tolong kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda dan melakukan proses menabungnya buat Anda. Saya kasih contoh, kalau Anda punya investasi di reksadana, pembelian reksadana tersebut harus dilakukan dengan mentransfer uang ke rekening bank kustodian mereka. Nantinya uang itu oleh mereka dibelikan unit reksadana. Disini, Anda bisa meminta kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda di muka dan melakukan proses transfer itu sehingga Anda tidak perlu lagi repot-repot melakukan proses menabung. Toh, Anda tetap menabung di muka, kan? Pertanyaannya sekarang, memang bisa kantor melakukannya? Bisa dong. Cuma, Anda harus ngomong dulu ke mereka. Wong kalau anda punya utang ke kantor saja cara pengembalian yang mereka minta adalah dengan sistem potong gaji, kan? Kalau mereka bisa memotong gaji Anda untuk menutupi utang yang mereka berikan buat Anda, apalagi kalau Anda cuma minta kantor melakukan proses menabung buat Anda? All you have to do is just ask …. 
3. Pakai celengan. Eit, jangan kaget, yang namanya celengan itu tidak selalu buat anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa. Bedanya adalah apa yang Anda celeng. Kalau anak kecil nyeleng koin, entah seratus, lima ratus, atau seribu, Anda bisa nyeleng─katakan─lembaran dua puluh ribu rupiah. Lho, bagaimana caranya? Gampang: setiap kali Anda mendapatkan lembaran uang dua puluh ribu rupiah, tetapkan tekad: JANGAN PERNAH MENGGUNAKAN UANG ITU UNTUK BELANJA. Langsung saja masukkan ke celengan. Jadi, setiap kali bertemu lembaran uang dua puluh ribu, langsung dicelengin. Setiap kali bertemu lembaran dua puluh ribu, celeng lagi. Begitu seterusnya. Anda akan kaget begitu tahu berapa jumlah yang bisa Anda kumpulkan di akhir bulan. Misalnya, Anda belanja barang senilai Rp.15.000,- dengan menggunakan lembaran uang Rp.50.000,-. Berarti, Anda akan punya kembalian sebesar Rp.35.000,-, yang terdiri atas selembar dua puluh ribu dan tiga lembar lima ribu. Nah, celengin deh uang dua puluh ribu Anda. Anda toh sudah menetapkan tekad sebelumnya untuk tidak memakai lembaran dua puluh ribu itu, kan?
Work smart and hard !!!

Selasa, 01 Maret 2011

Lima Yang HARUS Anda Perhatikan

Banyak orang bilang “Kalau mau kaya, jangan lama-lama jadi karyawan. Keluar dan bukalah usaha sendiri.” Pertanyaannya: betulkah bekerja sebagai karyawan tidak bisa membuat Anda jadi kaya? Jawabannya: ternyata tidak betul…! Dalam postingan kali ini, ada 5 kiat agar seorang karyawan bisa jadi kaya:
1. Beli & Miliki Sebanyak Mungkin Harta Produktif,
2. Atur Pengeluaran Anda,
3. Hati-hati dengan Utang,
4. Sisihkan untuk Masa Depan,
5. Miliki Proteksi.
Dipenuhi dengan sejumlah contoh serta langkah praktis untuk setiap kiatnya, artikel berikut ini pantas menjadi pegangan bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan. Tapi mohon maaf, sayangnya bersambung. Sampai jumpa.

Minggu, 13 Februari 2011

Sudah Benarkah Pandangan Anda Dalam Membuka Usaha ? (Bagian 2)

Sudah Benarkah Pandangan Anda Dalam Membuka Usaha ? Kedua, tentang pandangan bahwa ‘jangan jadi karyawan/kuli kalau ingin menjadi kaya. Kalau ingin menjadi kaya jadilah juragan’. Statemen ini bisa benar dan bisa salah. Benar karena memang kalau kita jadi juragan, kerja kita tidak terlalu keras. Paling kerja keras kita berada di awal ketika membangun bisnis. Itu saja bagi orang yang tidak memiliki warisan orang tua yang kaya. Bagi yang mendapat warisan, tanpa perlu usaha sekecil pun langsung diangkat menjadi juragan. Kerja sang juragan paling hanya menghitung uang dan menggaji karyawan (padahal sebenarnya ada yang lebih dari sekedar demikian, yaitu memutar otak bagaimana agar usaha yang dijalani dapat berjalan eksis di pasaran. Dan ini dimiliki oleh siapa saja yang memiliki keterampilan memimpin dengan sifat-sifat pemimpin bijak berikut strategi yang jitu. Dan hal yang demikian itu tidak dapat diperoleh kecuali dari pengetahuan yang dia cari atau kecerdasan yang memang cenderung kepada dunia kepemimpinan). Tanpa bekerja pun, juragan tetap dapat penghasilan. Entah itu sakit, meninggalkan pekerjaan karena suatu keperluan, atau sebab yang lain. Lain dengan karyawan. Mau tidak mau dia harus mengerahkan tenaganya untuk mendapatkan penghidupan. Bila tidak berangkat bekerja ya tidak akan mendapatkan apa-apa. Sampai-sampai ada statemen : ‘lebih baik kecil tapi menjadi juragan daripada besar tapi jadi kuli’. Kalimat ini sama sekali tidak salah. Karena memang tiada artinya bila ada karyawan bergaji besar, namun bila dia menghadapi penghalang yang membuatnya absen bekerja, ya tidak akan mendapat gaji. Jika demikian, bagaimana cara meluruskan pemahaman keliru di atas ? Yang benar adalah mengambil jalan tengah. Berpikir seimbang dalam menganalisa keduanya. Maknanya kita jangan sampai berpikir cupet. Dalam suatu badan atau organisasi, pasti ada yang namanya ketua dan anggotanya. Tidak bisa jika kita menghendaki menjadi ketua atau anggota semua. Sekilas ketua memang menduduki kedudukan yang luar biasa. Tetapi keberadaannya tidak berarti ketika tidak ada anggota yang dipimpinnya. Begitu juga sebaliknya. Maka dalam suatu organisasi harus ada yang namanya ketua dan anggota, yang saling bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah diutarakan bersama. Dengan berpikir demikian, tidak akan ada seseorang yang ‘ngambek’ ingin menjadi juragan dalam usaha yang dia rintis atau milik orang lain. Jika memang dia adalah orang yang tepat, maka suatu saat nanti dia akan menjadi juragan dengan sendirinya. Dan jika tidak demikian, biarlah menikmati apa yang ada di hadapan. Tidak perlu memberontak. Karena perusahaan tanpa kehadirannya bisa jadi akan mati. Atau mungkin dia tidak mampu mengatur usaha jika diangkat menjadi juragan. Bisa jadi pula dia adalah karyawan di perusahaan ini, namun dia adalah juragan di perusahaan itu. Yang penting seseorang tidak akan frustasi jika memang dia belum atau tidak ditakdirkan menjadi juragan. Karena masing-masing adalah baik adanya jika menjalankan dengan baik dan ikhlas apa yang dibebankan. Demikian, semoga bermanfaat.