Mas Safir,Perkenalkan nama saya Zainal dan saya adalah pembaca setia rubrik yang Anda asuh ini Mas. Benar-benar banyak manfaatnya bagi pengelolaan keuangan keluarga saya. Begini Mas, saya lagi bingung nih, orang tua saya ingin membuka usaha kelontong dan bahan-bahan sembako. Yang jadi permasalahan saya adalah bagaimana yah dengan pembukuan yang harus saya buat agar bisa terkontrol dengan baik pemasukan dan pengeluarannya. Tempat usaha sudah saya sewa untuk 3 tahun sebesar 6 juta dan ada juga biaya renovasi sebesar 700 ribu. Ada juga biaya untuk membeli etalase sebesar 1 juta dan untuk modal awal usaha perkiraan membutuhkan kurang lebih Rp 2,5 juta.
Terima kasih sebelumnya.
Zainal - Surabaya
Jawab:
Mas Zainal, menjalankan usaha memang butuh perencanaan dan perhitungan yang matang, supaya Anda jadi tahu, mau dibawa kemana nanti usaha itu. Setiap orang punya berbagai tujuan dalam mendirikan usaha, mulai dari mengisi waktu luang dan menambah penghasilan buat keluarga, sampai mencari untung, untung dan untung. Nah, apapun tujuan Anda, ada perencanaan yang baik tetap harus ada sehingga usaha Anda nggak akan berhenti di jalan sebelum tujuannya tercapai. Ya nggak?
Kembali ke pertanyaan Anda, bagaimana pembukuan yang baik untuk usaha Anda. Kalau yang dimaksud teknis pembukuannya, wah kayaknya gak bisa dijelaskan di sini mas, karena bisa jadi akan terlalu panjang penjelasannya. Tapi tenang saja mas, ada jalan keluarnya kok. Coba deh baca beberapa buku yang membahas tentang ini. Anda bisa cari buku di toko buku yang membahas tentang pembukuan untuk usaha kecil, atau membeli software pembukuan yang sederhana dengan komputer.
Tapi, saya coba jelaskan singkatnya saja, coba Anda catat dengan baik semua pemasukan dan pengeluaran uang dan barang. Gimana caranya biar gampang? Pakai saja nota penjualan untuk setiap transaksi yang dilakukan. Sekecil apapun transaksi yang dilakukan dan – kalaupun si pembeli nggak meminta notanya - tetap buatkan saja notanya sebagai catatan Anda. Simpan saja nota-nota ini dan setiap satu bulan baru Anda bukukan. Tapi yaa, kalau Anda takut lupa, bisa dimasukkan saja langsung ke dalam buku aliran kas usaha. Begitu juga dengan pembelian barang dagangan, minta semua notanya dan simpan baik-baik. Anda tidak perlu melakukan pembukuan sendiri kok. Coba minta pelajar SMK jurusan akuntansi untuk membuat pembukuan usaha Anda tersebut. Nanti mereka juga akan membantu menghitungkan berapa keuntungan yang dapat Anda peroleh setiap bulannya dan tentunya nilai penyusutan dari perlengkapan-perlengkapan yang Anda miliki. Gampang, kan? Jadi Anda nggak perlu pusing lagi sekarang dalam masalah pembukuan usaha. Mudah-mudahan usaha Anda sukses ya Mas.
Dikutip dari Sindo, 23 Maret 2008
Jumat, 24 Juni 2011
Kamis, 23 Juni 2011
MEMPERTIMBANGKAN UNTUK PENSIUN DINI
Diposting oleh
Unknown
Pak Safir, melalui e-mail ini saya mohon bantuan untuk dapat kiranya memberikan solusi serta pencerahan bagi saya bagaimana dan apa sebaiknya yg harus dilakukan untuk merencanakan keuangan keluarga di masa datang. Saya karyawati swasta, usia 44 thn, mempunyai 3 orang anak usia 14, 10 dan 3,5 thn, saat ini ada penawaran pensiun dini di kantor dan saya tertarik ikut program tersebut yang insya Allah uang yang akan didapat adalah +/- Rp. 500 Juta. Suami bekerja di swasta, penghasilan +/- Rp. 6,5 juta/bulan, sementara pengeluaran rumah tangga +/- Rp. 8 Juta/bulan.
Yang menjadi pertanyaan :
1. Harus bagaimana saya memenuhi kebutuhan per bulan, sementara uang tersebut ingin saya tabung saja untuk keperluan masa depan, apakah hanya ditabung saja lalu diambil bunganya per bulan? bila demikian mungkin sama saja dengan tidak ada penambahan pemasukan karena bunga selalu habis diambil ?
2. Kalau ingin investasi, berapa persen kah dari uang tersebut yang aman dan tidak mengganggu untuk kebutuhan per bulannya. Kalau mau buka usaha bisa tidak yah?
Terima kasih dan salam hormat,
Feni - Bekasi
Jawaban:
Memang sih, biasanya adanya tawaran pensiun dini dari perusahaan sangat ditunggu-tunggu oleh para karyawan. Tapi tentunya juga butuh pertimbangan yang cukup matang, khususnya dari sisi keuangannya. Pertanyaanya sekarang, Apakah pesangon yang akan Anda terima itu nantinya bisa menggantikan penghasilan yang tentunya akan hilang setelah Anda berhenti bekerja.
Ok, sekarang coba Anda buat hitungan sederhana saja di atas kertas mbak. Kalau Anda jadi mengambil program pensiun dini, maka Anda akan mendapatkan uang pesangon sekitar 500 juta dan juga Anda butuh dana sebesar kurang lebih 1,5 juta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga perbulannya. Gimana cara mendapatkan dana kekurangan tersebut? Dan gimana juga cara mengelola uang pesangon itu sebaiknya?
Pertama, untuk menutupi kekurangan dana kebutuhan hidup keluarga perbulannya, Anda masukkan saja 80 persen dana tersebut ke dalam bentuk deposito. Kenapa deposito? Karena Anda membutuhkan produk keuangan yang dapat memberikan hasil tetap setiap bulannya sebagai pengganti pengasilan Anda selama ini. Katakanlah dengan tingkat bunga deposito dikisaran 6 persen, Anda akan mendapatkan sekitar 2 juta perbulannya. Nah, jumlah dana yang Anda butuhkan hanya 1,5 juta, maka sisanya bisa Anda investasikan lagi secara rutin untuk kebutuhan masa depan yang lainnya. Misalnya untuk persiapan pendidikan anak, pensiun dan lainnya. Bisa dengan cara membeli emas batangan atau ditabungkan lagi untuk modal usaha.
Kemudian untuk sisa yang 20 persennya lagi bisa Anda kembangkan melalui produk keuangan yang namanya reksadana. Loh kenapa harus ke reksadana? Karena dengan investasi ke reksadana, Anda tidak usah lagi memikirkan harus ke mana uang itu diinvestasikan. Reksadana ini dikelola oleh sekumpulan profesional dalam bidang keuangan yang dinamakan Manajer Investasi. Merakalah yang nantinya akan mengelola dana yang Anda tanamkan, dan nanti mereka akan memberikan laporan hasil investasi Anda setiap bulannya. Enak, bukan?
Saya rasa komposisi persentase tersebut sudah cukup pas untuk Anda mbak. Jadi kalau tidak ada perubahan dengan jumlah nilai pesangon yang diberikan, gak ada salahnya kok mbak untuk memanfaatkan program pensiun dini tersebut. Selain dari sisi keuangan sudah bisa terlihat nilainya memadai, Anda juga bisa lebih dekat lagi dengan buah hati dirumah. Menarik kan?
Dikutip dari Sindo, 20 April 2008
Rabu, 22 Juni 2011
KREDIT PEMILIKAN RUMAH
Diposting oleh
Unknown
Tanya :
Pak Safir, Saya seorang pegawai, ingin bertanya tentang perencanaan keuangan untuk mengambil KPR. Perlu diketahui oleh Bapak penghasilan saya setiap bulan sebesar +/- Rp.5.000.000, saya ingin mengambil perumahan dengan harga sekitar +/- Rp. 226.000.000,00 s.d Rp. 230.000.000,00 dan saya mempunyai tabungan sebesar +/- Rp. 100.000.000,00, yang rencananya akan saya pergunakan untuk pembayaran DP dan untuk biaya administrasi, bea balik nama sewaktu mau akad kredit nanti. Dan saya mempunyai hutang bank sebesar Rp. 1.500.000. Apakah saya dianggap Mampu sewaktu akan melakukan akad kredit apabila saya mengambil KPR.
Jawab :
Rencana Anda untuk segera memiliki rumah sangat bagus sekali. Loh kenapa? Karena semakin cepat Anda memiliki rumah, baik itu melalui KPR atau melunasinya langsung, tentunya Anda memiliki kesempatan untuk memilih lokasi yang cocok dengan selera dan juga harganya. Mungkin kalau Anda tunda pembelian rumah hingga tahun depan atau dua tahun lagi misalnya, tentu lokasi yang saat ini Anda minati sudah dimiliki oleh orang lain.
Nah sekarang, Anda kira-kira dianggap mampu gak sih oleh pihak bank untuk mengambil KPR? Jawabnya ya, Anda bisa kok mas memiliki rumah melalui KPR. Harga rumah kan setiap tahunnya akan terus meningkat yang biasanya kenaikannya lebih tinggi dari pengenaan bunga KPR tersebut. Jadi, Anda bisa kok ambil jangka waktu yang panjang untuk pembayaran cicilannya, katakanlah selama 10-15 tahun. Dengan semakin panjangnya jangka waktu cicilann yang Anda ambil, tentunya besarnya cicilan yang harus Anda bayar bulanan otomatis jadi lebih rendah nilainya. Dalam mengelola keuangan rumah tangga, hutang memang mendapatkan perhatian yang cukup serius. Kenapa? Karena biasanya besarnya hutang ini menyebabkan seseorang akan mengeluarkan lebih banyak untuk membayar cicilannya. Yang jadi masalah, dalam pengeluaran rumah tangga tidak hanya ada hutang saja, tapi ada juga kebutuhan lainnya yang tentu perlu juga diperhatikan. Seperti pengeluaran untuk kewajiban sosial, investasi dan juga kebutuhan sehari-hari. Jadi, besarnya semua cicilan hutang, baik itu KPR dan hutang lainnya, yang boleh Anda lakukan adalah tidak lebih 30 persen dari penghasilan yang diterima.
Demikian, semoga bermanfaat.
Sumber : Sindo, 06 April 2008
Pak Safir, Saya seorang pegawai, ingin bertanya tentang perencanaan keuangan untuk mengambil KPR. Perlu diketahui oleh Bapak penghasilan saya setiap bulan sebesar +/- Rp.5.000.000, saya ingin mengambil perumahan dengan harga sekitar +/- Rp. 226.000.000,00 s.d Rp. 230.000.000,00 dan saya mempunyai tabungan sebesar +/- Rp. 100.000.000,00, yang rencananya akan saya pergunakan untuk pembayaran DP dan untuk biaya administrasi, bea balik nama sewaktu mau akad kredit nanti. Dan saya mempunyai hutang bank sebesar Rp. 1.500.000. Apakah saya dianggap Mampu sewaktu akan melakukan akad kredit apabila saya mengambil KPR.
Jawab :
Rencana Anda untuk segera memiliki rumah sangat bagus sekali. Loh kenapa? Karena semakin cepat Anda memiliki rumah, baik itu melalui KPR atau melunasinya langsung, tentunya Anda memiliki kesempatan untuk memilih lokasi yang cocok dengan selera dan juga harganya. Mungkin kalau Anda tunda pembelian rumah hingga tahun depan atau dua tahun lagi misalnya, tentu lokasi yang saat ini Anda minati sudah dimiliki oleh orang lain.
Nah sekarang, Anda kira-kira dianggap mampu gak sih oleh pihak bank untuk mengambil KPR? Jawabnya ya, Anda bisa kok mas memiliki rumah melalui KPR. Harga rumah kan setiap tahunnya akan terus meningkat yang biasanya kenaikannya lebih tinggi dari pengenaan bunga KPR tersebut. Jadi, Anda bisa kok ambil jangka waktu yang panjang untuk pembayaran cicilannya, katakanlah selama 10-15 tahun. Dengan semakin panjangnya jangka waktu cicilann yang Anda ambil, tentunya besarnya cicilan yang harus Anda bayar bulanan otomatis jadi lebih rendah nilainya. Dalam mengelola keuangan rumah tangga, hutang memang mendapatkan perhatian yang cukup serius. Kenapa? Karena biasanya besarnya hutang ini menyebabkan seseorang akan mengeluarkan lebih banyak untuk membayar cicilannya. Yang jadi masalah, dalam pengeluaran rumah tangga tidak hanya ada hutang saja, tapi ada juga kebutuhan lainnya yang tentu perlu juga diperhatikan. Seperti pengeluaran untuk kewajiban sosial, investasi dan juga kebutuhan sehari-hari. Jadi, besarnya semua cicilan hutang, baik itu KPR dan hutang lainnya, yang boleh Anda lakukan adalah tidak lebih 30 persen dari penghasilan yang diterima.
Demikian, semoga bermanfaat.
Sumber : Sindo, 06 April 2008
Selasa, 21 Juni 2011
CARA BELAJAR MENABUNG
Diposting oleh
Unknown
Pak Safir, saya boleh minta masukannya. Perkenalkan nama saya Nugroho, 35 tahun. Penghasilan sebulan Rp 4.000.000. Begini, saya mau ambil kredit Rp 25.000.000 dengan angsuran 687.500 untuk 60 bulan. (Bunga 13% pa = Rp 271.000,00) Dari kredit tersebut saya depositokan di sebuah koperasi, dan saya mendapat Rp 300.000,00 per bulannya. Maksud saya dengan demikian saya berusaha "nabung maksa" biar di bulan ke 60 saya punya tabungan Rp 25.000.000,00. Apakah langkah saya tepat? Atau ndak usah ambil kredit itu? Terima kasih banyak.
Nugroho – Semarang
Jawaban:
Mas Nugroho,
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang berupaya untuk bisa menabung. Salah satu caranya adalah yang seperti Anda lakukan saat ini. Saya rasa tidak masalah dengan langkah yang saat ini Anda tempuh. Karena menurut perkiraan saya, Anda adalah orang yang sulit untuk menabung, dan dengan cara ini mau tidak mau Anda jadi bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Bukan gitu, mas? Kenapa saya bilang langkah yang Anda ambil tepat? Karena saya melihat 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, membiasakan diri Anda menabung adalah hal yang sangat bagus. Dan kedua, hasil investasi dari dana yang Anda tanamkan dalam bentuk deposito di koperasi nilainya masih lebih besar dari besaran bunga kredit yang dikenakan. Tapi saran saya pastikan lagi, bahwa hasil yang diberikan oleh koperasi tersebut konsisten dengan nilai yang sama setiap bulannya. Karena kalau sampai hasilnya di bawah bunga kredit, Anda akan kehilangan nilai investasi itu sendiri. Yaitu mendapatkan untung dari selisih antara bunga kredit dan bunga hasil investasi di koperasi.
Mas, kalau masa 60 bulan itu sudah berlalu, saya sarankan Anda untuk tetap melakukan investasi dengan nilai yang sama tapi dengan sarana investasi yang lain. Karena saya yakin, rutinitas Anda untuk menyisihkan dana dalam jumlah yang pasti setiap bulannya sudah terbentuk menjadi kebiasaan dan sayang sekali kan kalau hal itu hilang begitu saja. Kemana Anda sebaiknya investasi? Saya sih lebih sarankan Anda untuk melakukan investasi dalam bentuk reksadana atau bisa juga ke obligasi ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah (ORI). Dengan sarana-sarana investasi tersebut, Anda akan mendapatkan hasil investasi yang lebih optimal lagi dengan risiko yang lebih terukur. Selamat berinvestasi. Semoga berhasil.
Sindo, 24 Februari 2008
Nugroho – Semarang
Jawaban:
Mas Nugroho,
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang berupaya untuk bisa menabung. Salah satu caranya adalah yang seperti Anda lakukan saat ini. Saya rasa tidak masalah dengan langkah yang saat ini Anda tempuh. Karena menurut perkiraan saya, Anda adalah orang yang sulit untuk menabung, dan dengan cara ini mau tidak mau Anda jadi bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Bukan gitu, mas? Kenapa saya bilang langkah yang Anda ambil tepat? Karena saya melihat 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, membiasakan diri Anda menabung adalah hal yang sangat bagus. Dan kedua, hasil investasi dari dana yang Anda tanamkan dalam bentuk deposito di koperasi nilainya masih lebih besar dari besaran bunga kredit yang dikenakan. Tapi saran saya pastikan lagi, bahwa hasil yang diberikan oleh koperasi tersebut konsisten dengan nilai yang sama setiap bulannya. Karena kalau sampai hasilnya di bawah bunga kredit, Anda akan kehilangan nilai investasi itu sendiri. Yaitu mendapatkan untung dari selisih antara bunga kredit dan bunga hasil investasi di koperasi.
Mas, kalau masa 60 bulan itu sudah berlalu, saya sarankan Anda untuk tetap melakukan investasi dengan nilai yang sama tapi dengan sarana investasi yang lain. Karena saya yakin, rutinitas Anda untuk menyisihkan dana dalam jumlah yang pasti setiap bulannya sudah terbentuk menjadi kebiasaan dan sayang sekali kan kalau hal itu hilang begitu saja. Kemana Anda sebaiknya investasi? Saya sih lebih sarankan Anda untuk melakukan investasi dalam bentuk reksadana atau bisa juga ke obligasi ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah (ORI). Dengan sarana-sarana investasi tersebut, Anda akan mendapatkan hasil investasi yang lebih optimal lagi dengan risiko yang lebih terukur. Selamat berinvestasi. Semoga berhasil.
Sindo, 24 Februari 2008
Senin, 20 Juni 2011
BEKERJA ATAU MENDIRIKAN USAHA ???
Diposting oleh
Unknown
Mas Safir pernah ditanya oleh seorang karyawan swasta dengan penghasilan yang mencukupi. Dia berniat untuk fokus kepada keluarga dengan mendirikan usaha. Tapi yah itu dia, dia belum berani berhenti kerja karena usaha kan tidak langsung menghasilkan. Kira-kira apa yang bisa dia lakukan ? Bagaimana cara pengaturan untuk modal usaha?
Beliau katakan :
Senang bisa kenalan dengan Anda lewat rubrik ini. Niat Anda untuk beralih profesi menjadi wirausahawan bagus sekali saya hargai. Sehingga Anda tetap bisa melaksanakan tanggung jawab Anda terhadap keluarga dan tentunya tanpa harus kehilangan pekerjaan. Bahkan bisa jadi, malah menambah penghasilan.
Saya bisa mengerti kegelisahan Anda, karena Anda masih terbiasa dengan penghasilan tetap yang Anda peroleh dari pekerjaan sebagai karyawan. Tapi tau gak, itu mungkin justru bisa menghambat Anda untuk jadi percaya diri dan sukses dalam usaha yang Anda bentuk. Terus, gimana ngatasinya? Gampang: Anda musti mengumpulkan modal usaha plus Dana Cadangan yang nilainya cukup besar. Ini karena sebetulnya yang Anda khawatirkan adalah rutinitas keluar masuknya uang, bukan rutinitas kerja kantoran. Kalau Anda punya Dana Cadangan yang cukup besar, Anda kan bisa menggaji diri Anda sendiri dari uang cadangan itu sementara usaha Anda masih belum lancar pemasukannya? Ya kan? .
Tapi yaaa…. Anda juga nggak perlu buru-buru kalau usaha Anda memang masih belum siap untuk dijalankan. Saran saya sih, sambil saat ini Anda masih kerja, bikinlah rencana yang benar-benar matang. Dan jangan lupa siapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi kalau usaha itu betul-betul akan berjalan nantinya. Contoh: kalau nanti usaha Anda untung, maka coba rencanakan untuk apa laba yang akan Anda dapatkan itu nantinya akan digunakan. Dan kalau belum untung, Anda juga harus tahu apa yang harus dilakukan. Hal lain juga yang musti diperhatikan dalam rencana Anda adalah bidang apa yang ingin Anda buka, apa yang akan dibangun, berapa modalnya, dari mana dapat supplier, bagaimana konsumennya, bahkan mungkin sampai pada hal yang lebih detil seperti bagaimana bentuk desain kemasan dari produk atau design tempat usaha Anda. Semua itu bisa Anda buat sendiri kok dengan bantuan suami, atau dengan bantuan seorang konsultan bisnis profesional. Sehingga kalau semuanya sudah siap dijalankan, Anda tinggal mengajukan pengunduran diri dan siap untuk menjalani dunia baru di bidang bisnis.
Sumber : Sindo, 09 Maret 2008
Beliau katakan :
Senang bisa kenalan dengan Anda lewat rubrik ini. Niat Anda untuk beralih profesi menjadi wirausahawan bagus sekali saya hargai. Sehingga Anda tetap bisa melaksanakan tanggung jawab Anda terhadap keluarga dan tentunya tanpa harus kehilangan pekerjaan. Bahkan bisa jadi, malah menambah penghasilan.
Saya bisa mengerti kegelisahan Anda, karena Anda masih terbiasa dengan penghasilan tetap yang Anda peroleh dari pekerjaan sebagai karyawan. Tapi tau gak, itu mungkin justru bisa menghambat Anda untuk jadi percaya diri dan sukses dalam usaha yang Anda bentuk. Terus, gimana ngatasinya? Gampang: Anda musti mengumpulkan modal usaha plus Dana Cadangan yang nilainya cukup besar. Ini karena sebetulnya yang Anda khawatirkan adalah rutinitas keluar masuknya uang, bukan rutinitas kerja kantoran. Kalau Anda punya Dana Cadangan yang cukup besar, Anda kan bisa menggaji diri Anda sendiri dari uang cadangan itu sementara usaha Anda masih belum lancar pemasukannya? Ya kan? .
Tapi yaaa…. Anda juga nggak perlu buru-buru kalau usaha Anda memang masih belum siap untuk dijalankan. Saran saya sih, sambil saat ini Anda masih kerja, bikinlah rencana yang benar-benar matang. Dan jangan lupa siapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi kalau usaha itu betul-betul akan berjalan nantinya. Contoh: kalau nanti usaha Anda untung, maka coba rencanakan untuk apa laba yang akan Anda dapatkan itu nantinya akan digunakan. Dan kalau belum untung, Anda juga harus tahu apa yang harus dilakukan. Hal lain juga yang musti diperhatikan dalam rencana Anda adalah bidang apa yang ingin Anda buka, apa yang akan dibangun, berapa modalnya, dari mana dapat supplier, bagaimana konsumennya, bahkan mungkin sampai pada hal yang lebih detil seperti bagaimana bentuk desain kemasan dari produk atau design tempat usaha Anda. Semua itu bisa Anda buat sendiri kok dengan bantuan suami, atau dengan bantuan seorang konsultan bisnis profesional. Sehingga kalau semuanya sudah siap dijalankan, Anda tinggal mengajukan pengunduran diri dan siap untuk menjalani dunia baru di bidang bisnis.
Sumber : Sindo, 09 Maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)